Asesmen Nasional Bukan Hanya Gantikan UN

Jakarta, Posbaru – Untuk mendorong mutu pembelajaran  dan hasil belajar peserta didik, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendukung penuh peningkatan sistem evaluasi pendidikan yang merupakan bagian dari kebijakan Merdeka Belajar.

Terkait dengan hal tersebut, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengeluarkan kebijakan Asesmen Nasional yang dirancang bukan hanya untuk mengganti Ujian Nasional, namun juga sebagai penanda perubahan paradigm tentang evaluasi pendidikan.

Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim pada hari Sabtu, (10/10/20). Ia menegaskan bahwa perubahan mendasar pada Asesmen Nasional tidak lagi mengevaluasi capaian murid secara indvidu namun juga mengevaluasi dan memetakan sistem pendidikan berupa Input, Proses, dan Hasil.

 “Potret layanan dan kinerja setiap sekolah dari hasil Asesmen Nasional ini kemudian menjadi cermin untuk kita bersama-sama melakukan refleksi mempercepat perbaikan mutu pendidikan Indonesia,” ucap Nadiem.

Kemudian, Asesmen Nasional sendiri, terdiri dari tiga bagian yakni Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar.

Nadiem mengatakan, AKM dirancang untuk mengukur capaian peserta didik dari hasil belajar kognitif yakni literasi dan numerasi, dan kedua aspek tersebut menjadi syarat bagi peserta didik untuk berkontribusi di masyarakat, terlepas dari bidang kerja dan karier yang diinginkan di masa depan.

Hal tersebut juga tidak mengecilkan arti penting mata pelajaran, sebab hal tersebut dapat membantu murid mempelajari bidang ilmu lain, utamanya untuk berfikir dan mencerna informasi dalam bentuk tertulis dan angka atau kuantitatif.

“Jadinya kemampuan literasi dan numerasi adalah kemampuan yang akan berdampak kepada semua mata pelajaran yang diajarkan dan dipelajari oleh murid-murid kita,” ujarnya.

Lalu untuk Survei Karakter, dirancang mengukur pencapaian murid dari hasil belajar sosial-emosional berupa pilar karakter untuk mencetak profil pelajar Pancasila dimana terdapat enam indikator yakni beriman dan bertakwa pada tuhan YME dan berakhlak mulia, kebhinekaan global, kemandirian, gotong royong, bernalar kritis, dan kreativitas.

Dan yang terakhir, Survei Lingkungan Belajar, dirancang untuk mengevaluasi dan memetakan aspek pendukung kualitas pembelajaran di lingkungan sekolah.

“Asesmen Nasional pada tahun 2021 dilakukan sebagai pemetaan dasar (baseline) dari kualitas pendidikan yang nyata di lapangan, sehingga tidak ada konsekuensi bagi sekolah maupun murid,” katanya.

Dalam hal ini Kemendikbud juga akan membantu sekolah dan dinas pendidikan dengan cara menyediakan laporan hasil asesmen yang menjelaskan profil kekuatan dan area perbaikan di tiap sekolah dan daerah.

 Mendikbud juga menyebutkan bahwa dalam menghadapi Asesmen Nasional 2021, Guru, Kepala Sekolah, Murid, dan Orang Tua tidak perlu melakukan persiapan khusus ataupun tambahan. Dimana menurutnya hal tersebut akan menjadi bebas psikologis bagi murid.

“Tidak usah cemas, tidak perlu bimbel khusus untuk Asesmen Nasional. Mari kita semua bersama-sama mendukung pelaksanaan Asesmen Nasional mulai tahun 2021 sebagai bagian dari reformasi pendidikan Indonesia” ucapnya.

Anda Mungkin Suka