Indikator Kegiatan Belajar Tatap Muka Jabar

Kota Bandung, Posbaru – Terdapat 228 kecamatan di Jawa Barat (Jabar) yang berstatus Zona Hijau, untuk itu teritorial pelaksanaan kegiatan belajar secara tatap muka tingkat SMA/SMK/SLB direduksi menjadi skala kecamatan per 5 Agustus 2020.

Meskipun begitu ada sejumlah faktoe yang harus dipenuhi, maka tidak semua sekolah di kecamatan berstatus Zona Hijau dapat melaksanakan pembelajaran secara tatap muka.

Menurut Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jabar, Dedi Supandi, pihaknya sudah membuat indikator-indikator terkait dengan kegiatan tersebut.

Indikator pertama, sekolah harus berada dalam Zona Hijau, Kedua, Pembelajaran secara tatap muka diutamakan bagi siswa yang berada di wilayah dengan jaringan internet yang tidak baik (blank spot).

Untuk SMK, Karena sertifikat keahlian harus didapat dengan pembelajaran secara praktik maka dalam hal ini pembelajaran bisa dilakukan secara tatap muka.

Ia juga menyebutkan bahwa tidak semua guru dapat terlibat dalam pembelajaran secara tatap muka, sebab yang dapat melakukan kegiatan mengajar secara tatap muka hanya guru yang memiliki umur dibawah 45 tahun serta tidak mengidap penyakit komorbid.

Dalam hal ini guru juga harus melakukan rapid test ataupun swab test sebelum melakukan kegiatan belajar secara tatap muka yang bertujuan untuk memastikan guru dalam kondisi sehat.

Pihaknya juga masih melakukan verifikasi terhadap 228 kecamatan tersebut, oleh sebab itu belum dikatakan pasti dapat melakukan kegiatan belajar secara tatap muka.

Bagi sekolah yang berada dalam wilayah berstatus Zona Hijau dapat mengajukan kesiapan pembelajaran secara tatap muka ke Kantor Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Jabar.

Dan nantinya pengawas dari kantor cabang akan memeriksa indikator-indikator yang harus dipenuhi sekolah agar dapat melakukan kegiatan pembelajaran secara tatap muka.

Dedi mengatakan, rekomendasi dari pengawas akan diserahkan ke Gugus Tugas Kabupaten/Kota yang nantinya akan meninjau ulang protokol kesehatan di sekolah tersebut.

Selain itu, Sekolah juga harus membentuk Satuan Tugas (Satgas), Bekerjasama dengan puskesmas, Kegiatan pembelajaran dibatasi hanya 4 jam, menyediakan tempat cuci tangan, dan pedoman kesehatan lainnya serta izin dari orang tua siswa.

Sekolah juga harus membagi kegiatan belajar (shift) sebab satu kelas hanya diperbolehkan diisi maksimal 18 siswa. Dan menerapkan metode blended learning (kombinasi belajar tatap muka dan daring).

Bagikan ?

Anda Mungkin Suka